April 30, 2005

Purity In Action (Joshua Harris)

Purity In Action
1. Respect the deep significance of physical intimacy
Many non-Christians view sex as a bodily function on the level of scratching another person's back.
they engage in sex whenever and with whomever they want. while this lifestyle is affront to biblical values, many Christians treat lesser expressions of kissing, holding and fondling another person as no big deal. while we may hold higher standards than our pagan neighbors, I'm afraid we, too, have lost sight of the deeper significance of sexual intimacy.
God designed our sexuality as a physical expression of the one-ness of marriage.
God guards it carefully and places many stipulations on it because He considers it extremely precious.
a man and a woman commit their lives to each other in marriage gain the right to express themselves sexually to each other. but if you're not married to someone, you have no claim on that person's body, no right to sexual intimacy. maybe you agree with this and plan to save sex for marriage. but in your opinion, you view "making out" activities such as kissing, necking, and fondling as no big deal.
but we need to ask ourselves a serious question. if another person's body doesn't belong to us(that is, we're not married) what right do we have to treat the people we date any differently than a married person would treat someone who wasn't his or her spouse?
"but," you might say, "that's completely different." is it really?
our culture has programmed us to think that singleness grants us license to fool around, to try out people emotionally and sexually. since we're not married to anyone in particular, we can do what we want with anyone in general. God has a very different view. "honor marriage, and guard the sacredness of sexual intimacy between wife and husband,"(Hebrews 13:4). this honor for the sacredness of sexuality between husband and wife starts now, not just after the wedding day. respect for the institution of marriage should motivate us to protect it from violation while we're single.

2. set your standards too high.
in the early days of his ministry, Billy Graham experience deep concern over the public's distrust of evangelist. he realized that most people who distrusted evangelist did so because those evangelist lack integrity, particularly in the area of sexuality. to combat this, he and the close circle of men who ran the crusades avoided opportunities to be alone with women who weren't their wives. think about this for a moment. what a inconvenience! did these men really fear that they'd commit adultery the moment they found themselves alone with a woman? weren't they going a little too far?
for long time the church has been shaken and demoralized by the immorality of many Christian leaders.
but now, even unbelievers honor the name of Billy Graham, Mr. Graham has earned the respect of the world by his faithfulness and his integrity.
he set his standards too high-he went above and beyond the call of righteousness.
we can only attain righteousness by doing two things-destroyed sin in its embryonic stage and fleeing temptation.
to cut off the opportunity for sin at its root, and to fled from even the possibility of compromise.
God calls us to the same zeal for righteousness in premarital relationship. what exactly does that look like? for me and many other people i know, it has meant rejecting typical dating. i go out with group of friends; i avoid one-on-one dating because it encourages physical intimacy and places me in an isolated setting with a girl.
can't i handle it? don't i have any self control? yeah, maybe i could handle it, but that's not the point. God says "flee the evil desires of youth, and pursue righteousness, faith, love and peace, along with those who call on the lord out of a pure heart"(2 timothy 2:22). i won't stick around to see how much temptation i can take. God is not impressed with my ability to stand up to sin. He's more impressed by the obedience i show when i run from it.
cut off sin at its root. until you're married-and i mean until you've walked down that aisle and exchanged vows-don't act as if your bodies belong to each other.
maybe you think i'm taking this idea way too far. maybe you're saying, "you've got to be joking. one little kiss won't have me hurtling toward certain sin."
let me encourages you to give this idea a little more thought. for just a moment, consider the possibility that even the most innocent form of sexual expression outside of marriage could be dangerous.
physical interaction encourages us to start something we're not supposed to finish, awakening desires we're not allowed to consummate, turning on passions we have to turn off. what foolishness! God designed our sexuality to operate within the protection and commitment of marriage. in marriage, things are supposed to progress-things are allowed to get "out of hand".
and i really believe that before marriage we can't keep from abusing God's gift of sex unless we choose to stay off the path altogether.
tolerated sin is pampered sin-it grows and gain strength. only by keeping our standards too high and killing sin in its infantile stage will we avoid its destruction.
set your standards too high, you will never regret purity.
"put to death, therefore, whatever belongs to your earthly nature: sexual immorality, impurity, lust, evil desires..."(Colossians 3:5)

3. make the purity of others a priority
one of the best ways to maintain a pure life to watch out for the purity of others. what can you do to protect your brothers and sisters in the LORD from impurity? what can you say to encourage them to keep their hearts set in the direction of righteousness?.
the support and protection you can provide to same-sex friend is important, but the protection you can give to opposite-sex friend is invaluable.
support each other to gain holiness and purity

God's love for the impure does not cease, but their ability to enjoy His love does.
turned from God's presence we are completely unprotected from the marauding destruction of sin.
without purity, God's gift of sexuality becomes a dangerous game.
without purity, the mind becomes a slave to depravity, tossed about by every sinful craving and imagination.

"who may ascend the hill of the LORD? who may stand in His holy place? he who has clean hands and a pure heart..."(psalm 24:3-4)
are you ready to deny yourself the pleasures of the moment to live a pure, God-focused life?
may your love for him fuel a lifelong, passionate pursuit of righteousness.

God is impressed with obedience

April 25, 2005

Manifestasi Kasih Tuhan Melalui KuasaNya (Pdt.Yusak Wijaya)

Markus 5:1-20
Jemaat yang dikasihi Tuhan, saya ingin saudara melihat bahwa peristiwa TUHAN YESUS mengusir roh jahat di Gerasa terjadi setelah peristiwa angin ribut. Ketika TUHAN YESUS mengawali perjalanan dengan mengajak murid2 bertolak ke seberang sedangkan TUHAN YESUS sendiri tertidur di buritan. TUHAN YESUS ingin menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas alam semesta. TUHAN YESUS tidak dikuasai oleh alam semesta yang begitu menakutkan murid2. Waktu murid2 ketakutan, mereka berkata, “ Guru, Engkau tidak peduli kalau kami binasa” Itu adalah teguran yang begitu keras dan bukan sekedar pemberitahuan “Guru, kami sedang takut” Tetapi kita melihat cara TUHAN YESUS menangani begitu indah. Ketika murid2 ketakutan dan menegur TUHAN YESUS dengan tidak sopan, ia tidak marah dan berkata “Kamu murid kurang ajar, tidak sopan” Tidak, tetapi TUHAN YESUS tahu pergumulan murid2 nya. Dan Ia menyelesaikan terlebih dahulu persoalan yang dihadapi murid2 nya. Ia berkata kepada angin “Diam dan tenanglah” setelah persoalan diselesaikan, baru Ia menegur murid2Nya dan berkata “ Mengapa kamu tidak percaya?” Kita sering tidak seperti TUHAN YESUS dalam menyelesaikan masalah dengan orang lain. Seringkali kita tidak bantu dahulu untuk menyelesaikan masalahnya, tetapi dicari dahulu kenapa sampai begini. Sesudah tahu, kita kritik2 dan kalau perlu memarahi dan akhirnya tetap tidak ada penyelesaian. Pola seperti itu tidak akan masuk karena mereka sedang bergumul dengan persoalan yang dihadapi. Kalau kita mengajar anak, anak bandel kita tegur dan marahi, percuma. Kalau anak kita tidak membereskan kamarnya, dan pulang sekolah kita marahi, tidak akan berhasil. Karena dia pulang sekolah persoalannya dia lapar. Ajak dulu makan, baru kita tunjukkan kamarnya.
Waktu TUHAN YESUS dalam peristiwa angin ribut, TUHAN YESUS ingin menunjukkan siapa Dia, Dia ingin menunjukkan kuasanya. Ketika di Gerasa, Ia menunjukkan bahwa Ia bukan saja berkuasa atas alam semesta, tetapi juga berkuasa atas roh2 jahat. Roh2 jahat takut dan tunduk pada TUHAN YESUS. Kalangan atheis tidak percaya adanya Tuhan, tetapi mereka percaya adanya setan. Lucu bukan, padahal setan yang mereka percaya ada, setan itu juga percaya adanya Tuhan. Seperti yang dikatakan Yakobus : setan tahu siapa Tuhan dan percaya, hanya bedanya mereka tidak mau taat.
Dari 2 kejadian ini, ketika TUHAN YESUS menunjukkan bahwa Dia berkuasa atas alam semesta dan roh2 jahat, ini bukan menjadi tujuan akhir Tuhan. Tujuannya adalah ingin memanifestasikan kasih yang ada dalam Dirinya. Kuasa yang dimiliki mencerminkan dari sudut leadership, pemimpin, sedangkan kasih yang dimiliki mencerminkan dari sudut seorang pelayan. Kedua hal ini dijalankan TUHAN YESUS dalam hidupnya dengan baik dan benar. Banyak orang bisa menjalankan kepemimpinan dengan baik tetapi tidak bisa menjalankan kasih. Orang Kristen dalam hidupnya harus bisa menjalankan servant-leader. Ini yang diadopsi dalam banyak buku manajement sekarang ini. Ini diadopsi dari Alkitab. Dikatakan bahwa seorang pemimpin yang baik harus bisa menjadi seorang pelayan bagi bawahannya. Kita melihat banyak orang berhasil menjadi leader tetapi tidak berhasil menjadi servant. TUHAN YESUS berkata siapa yang mau menjadi yang besar hendaklah ia menjadi yang melayani, yang mau menjadi yang terkemuka, hendaklah menjadi hamba bagi yang lain. TUHAN YESUS menunjukkan semua itu. Dalam perjalanan menuju Gerasa tujuan TUHAN YESUS adalah bukan sekedar ingin mendemonstrasikan kepada murid2nya tentang kuasaNya. Perjalanannya adalah ingin mengunjungi seseorang. Siapa dia? Apakah dia seorang Jenderal/ CEO? Bukan, TUHAN YESUS menempuh perjalanan, menempuh badai hanya untuk bertemu dengan satu orang gila yang memukul-mukul dirinya, yang dikucilkan dan dijauhi semua orang. Sekarang TUHAN YESUS sendiri mau datang mengunjungi orang itu. Sekarang ini tidak ada seorang yang mau melakukan hal seperti itu. Ada yang mau pergi menempuh segala kesulitan untuk cari dokter hebat. Tetapi TUHAN YESUS datang untuk memanifestasikan kasih yang dimiliki, sebagai orang yang berkuasa atas alam semesta dan roh2 jahat. Bayak orang ketika memiliki kuasa dalam hidupnya tidak dapat menjalankan kasih yang dimiliki.
Orang yang berkuasa ada 3 macam :
1. Orang yang berkuasa dalam hal intelektual. Dengan memiliki intelektual, ia mampu melakukan penemuan2 dan memimpin banyak orang. Ia pakai kuasa intelektualnya bukan untuk melayani banyak orang, tetapi untuk melayani dirinya sendiri atau melayani kuasa yang dimiliki.
2. Orang yang berkuasa dalam perdagangan. Ia memakai waktu yang banyak dan ia bukan menjadi tuan atas bisnisnya tetapi justru menjadi pelayan atas bisnisnya. Ia bekerja sampai larut malam dan lupa peran sebagai ayah dalam keluarga
3. Orang berkuasa dalam kemashuran yang dia miliki. Contohnya: Elvis Prestley. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, semua orang tahu siapa dia. Tapi dia menggunakan semua kemashuran untuk melayani dirinya sendiri dan akhirnya mati dengan mengenaskan.
Banyak orang yang memiliki kuasa dalam politik, contohnya adalah Suharto. Kuasa yang dimiliki bukan digunakan untuk memanifestasikan kasih Tuhan dalam hidupnya tetapi untuk melayani dirinya dan keluarganya. Tanpa sadar telah hanyut dan bukan lagi kekuasaan melayani dia tetapi dia melayani kuasa itu sendiri. Akhirnya hanyut sendiri dan melihat kehancuran kuasanya.
Orang Kristenpun sendiri sulit. Tuhan mempercayakan kuasa padanya; perdagangan, intelektual. Tetapi ketika dia memiliki semua itu, ia sulit untuk memanifestasikan kasihnya pada orang yang membutuhkannya dan mempermuliakan Tuhan.
Kenapa orang tidak dapat menjalankan kuasa dalam hidupnya bersamaan dengan memanifestasikan kasih. Sebelum orang itu mengalami kasih Tuhan dan menghayati penderitaan TUHAN YESUS di kayu salib, ia tidak dapat menjalankannya. Banyak orang Kristen berkata ”Dia lebih mudah untuk mengerti kehendak Tuhan daripada mentaatinya”. Dia mentaati kehendak Tuhan sepanjang kehendak Tuhan memberi benefit dalam hidupnya, tetapi ketika harga yang dibayar terlalu mahal,ia akan berpikir 2 x.
Kalau kita memiliki usaha dan ada orang mau melamar, ketika tahu latar belakangnya adalah bekas seorang penjahat, tapi sudah bertobat, walaupun ada rekomendasi dari gereja, kita lebih memilih orang yang bersih lingkungan. Karena kita berpikir, resiko besar. Kalau orang itu latar belakang pecandu, ini pasti resiko. Banyak hal, gerejapun menutup diri. Di London ada sebuah persekutuan wanita dan ada seorang wanita baru bergabung. Wanita ini pernah kumpul kebo, dan ia tinggal dengan anaknya hasil kumpul kebo. Dia datang ke gereja untuk mencari damai sejahtera. Tetapi, para wanita di komisi itu menolak karena takut suami mereka akan digoda dan mereka melaporkan pada ketua komisi untuk memberitahu wanita tersebut secara halus. Lalu wanita tersebut berkata “Saya tahu siapa diri saya dan saya tahu latar belakang saya gelap. Tapi tolong tunjukkan kepada saya tempat menampung orang2 seperti saya selain tempat ini”. Perempuan ini tahu, kalau dia kembali ke tempat asalnya, dia akan menjadi rusak dan dia tahu gereja menjadi harapan untuk mengalami pembaharuan hidup, tetapi justru anak2 Tuhan menutup diri. Karena mereka berpikir resiko, waktu mereka mau mendemonstrasikan kasih Tuhan, mereka memikirkan berapa besar harga yang harus dibayar, memikirkan untung ruginya. Dan kalau sudah begitu, orang mulai tawar hati dan menutup pintu. Seandainya TUHAN YESUS memikirkan resiko Dia datang dalam dunia, bagaimana Dia lahir dalam palungan, begitu miskin, dihina, dikhianati dan disangkal murid2 nya dan resiko yang paling hebat, Dia harus mati di kayu salib, Dia mungkin tidak datang dalam dunia. Tetapi justru Dia ingin memanifestasikan kasih Allah kepada dunia, dan tahu resiko yang dihadapi, Dia datang dalam dunia. Banyak anak Tuhan berpikir mengenai resiko, tetapi TUHAN YESUS berbeda dengan orang Kristen dalam dunia yang ketika mau memanifestasikan kasih Allah dalam dunia, dia mulai hitung dulu untung ruginya, resikonya. Kalau resiko besar, menutup diri. TUHAN YESUS justru mau menempuh bahaya yang membahayakan jiwaNya demi menemui 1 orang gila yang dirasuk setan. TUHAN YESUS tidak memakai kalkulasi untung rugi dan logika. Ini yang menjadi kesulitan. Doktrin hanya menjadi pengetahuan, ketika mereka didorong untuk melaksanakannya mereka gagal. TUHAN YESUS memakai suara hati, Ia mempunyai hati yang mencintai, hati yang ingin melayani, dan walaupun orang yang dilayani bukan orang yang terpandang, tetapi TUHAN YESUS datang untuk 1 orang ini memempuh bahaya. Ini adalah kontradiksi dari apa yang dilakukan manusia. Kita lihat apa yang dilakukan TUHAN YESUS justru diterima manusia sebagai suatu hal yang sangat berbeda. Waktu TUHAN YESUS berhasil mengusir roh jahat, ada korban yang harus dibayar, yaitu 2000 ekor babi. Kalau babi sekilo 25 ribu, 1 ekor babi diperkirakan harganya 1,25 juta. Ini 2000 ekor babi, 2,5 milyar. TUHAN YESUS demi 1 orang ia korbankan 2000 ekor babi. Ada yang bilang, “Ya terang aja, itu bukan babi sendiri, babi orang lain” Itu adalah komentar yang salah karena TUHAN YESUS berani mengorbankan nyawaNya sendiri menghadapi gelombang samudera demi 1 orang. Ia memiliki kuasa atas alam semesta dan roh2 jahat, bukan untuk mendemonstrasikan kuasaNya tapi untuk memanifestasikan kasih hanya untuk 1 orang ini. TUHAN YESUS berkata : 1 orang diselamatkan, ribuan malaikat bersuka cita. Saya percaya sukacita yang dialami malaikat lebih besar dari dukacita orang yang kehilangan babinya.
Banyak orang melihat yang TUHAN YESUS kerjakan, tidak bisa memahami kasih Tuhan. Apakah TUHAN YESUS tidak tahu siapa diriNya, Ia terpandang, banyak orang berusaha menjamu diriNya walaupun membenci dia, orang terpandang seperti Nikodemus datang mencari Dia. Dia harusnya bergaul dengan orang2 yang selevel, tetapi TUHAN YESUS menjadi sahabat orang-orang yang dikucilkan, sahabat pemungut cukai. Banyak kali kita sulit memahami, Paulus harus berdoa ”Aku berdoa supaya kamu memahami betapa lebar, tinggi dan dalam cinta Tuhan” Daud dikatakan bisa mengerti isi hati Tuhan karena Daud bergaul dekat dengan Tuhan. Bagaimana Daud bergaul dekat dengan Tuhan? Daud berusaha mengisi hidupnya dengan mencoba membaca Firman Tuhan, dia mengerti Taurat dan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupnya. Banyak orang berpikir untuk dekat dengan Tuhan, berusaha ikut dengan berbagai aktivitas rohani dan pelayanan; tetapi tidak. Kegiatan itu tidak menjamin kita hidup semakin dekat dengan Tuhan. Yang membuat kita semakin dekat dengan Tuhan dan mengerti kehendak Tuhan dalam hidup kita adalah melalui Firman Tuhan, melalui komunikasi kita dengan Tuhan dalam doa dan baca Firman Tuhan, dalam pesonal devotion saat teduh kita dengan Tuhan. Itu yang membuat kita semakin hari semakin mengenal Tuhan.
Banyak kali orang merasakan bagian ini tidak terlalu penting, yang penting saya melayani Tuhan. Kalau kita melihat, bagaimana hubungan kita dengan Tuhan? tidak ada yang tahu, cuma saudara dengan Tuhan. Kalau melihat aktivitas rohani, orang bisa terkecoh.
Suatu kali saya makan siang dan Yeremia Lim yang bercerita, dalam KKR ada 1 pemuda yang begitu menyukakan hatinya. Sebelum KKR, ia membersihkan ruangan, menyiapkan segala sesuatu dan memimpin koor. Anak muda ini luar biasa. Waktu KKR mau selesai dan mau pulang, kamar hotelnya diketuk, ternyata anak muda itu, anak muda itu berkata “Pak bisa bantu saya, saya ada masalah dengan Tuhan.” “Kamu adalah pemuda yang luar biasa dan begitu aktif. Kenapa kamu kemarin tidak maju ketika altar call?” Anak muda itu menjawab “Saya malu, orang tahu siapa saya dan saya menjadi teladan, tetapi tidak ada yang tahu saya sebenarnya seperti apa”
Kadangkala aktivitas rohani bisa menjadi kamuflase. Yang tahu berapa dekat dan berapa besar cinta saudara dengan Tuhan, hanya saudara sendiri dan Tuhan. Kalau saudara tidak makan dan minum, puasa, kelihatan wajahnya pucat dan mulai kurus. Tapi kalau saudara tidak baca Firman Tuhan, tidak kelihatan, padahal rohani saudara semakin kering. Dan Firman Tuhan tidak lagi bisa menegur dan berbicara dalam hati kita, yang tahu hanya saudara dan Tuhan. Banyak orang tidak memahami, tetapi Daud mengerti isi hati Tuhan karena dia berusaha memahami seluruh kebenaran Firman Tuhan dalam hidupnya. Dan inilah yang dilakukan oleh Martin Luther. MARTIN LUTHER pada tahun 1514, menjelang hari reformasi, ia adalah profesor muda yang berbakat, memiliki kuasa dalam mengajar, setiap mengajar, menarik bagi murid2nya. Tetapi ketika ia melihat kebenaran Firman Tuhan diinjak-injak, ia tidak bisa diam, dengan hati yang menggelora, dengan cinta yang begitu besar pada Tuhan, ia berontak. Waktu uskup mengatakan menjual surat utang dosa dan ketika gemerincing uang berbunyi, saudara kita yang ada dalam pulgatori terhindar dari api penyucian. Jadi orang berlomba-lomba membeli. Bagaimana MARTIN LUTHER mempunyai hati yang menggelora? Karena Ia membaca Firman Tuhan dan meneliti, akhirnya tahu bahwa manusia dibenarkan hanya karena iman, karena itu ia memantekkan dalil itu di semua gerbang. Dan ia tahu bahwa dengan melakukannya itu, ia kehilangan gelar, profesi dan masa depannya. Bagi dia, ketika dia tahu itu, dengan hati yang mengasihi Tuhan, ia tidak rela kebenaran Firman Tuhan diinjak-injak, dia siap membayar harga.
Kita tahu apa yang MARTIN LUTHER kerjakan, walaupun ia harus dikucilkan, hal itu menjadi berkat besar dan disitulah awal dari reformasi.
Kadangkala kita tidak mengerti bagaimana maksud Tuhan, mengapa Ia sampai berani menempuh resiko yang begitu besar hanya untuk 1 orang di Gerasa. Saya baru belajar ketika melayani satu ibu. Ia baru meninggal kemarin karena pecah pembuluh darah. Ia bertobat dalam retret yang diadakan MRI Pondok Indah. Padahal retret tersebut sudah mau dibatalkan karena bentrok dengan retret GRII pusat. Tapi pada hari terakhir, ibu ini menerima Tuhan, ikut kateksasi dan mau dibaptis. Suami ibu ini juga sekarang rajin ke gereja setelah istrinya meninggal karena minggu terakhir sebelum istrinya meninggal ia berkata “ Sekarang kamu ikut ke gereja, supaya nanti kita bisa ketemu di sorga”
Kadangkala manusia tidak dapat memahami rencana Tuhan, kita berpikir kenapa Ibu ini tidak disembuhkan Tuhan? Tetapi Tuhan Yesus berkata, dalam hati, “ Jusak, my way is not your way” Tetapi keluarga yang ditinggalkan dikuatkan imannya, akhirnya segala kesulitan dan pergumulan yang saya alami menjadi relatif melihat pekerjaan Tuhan dalam ibu ini. Ini yang dilakukan TUHAN YESUS, ia melayani dengan hati, TUHAN YESUS melihat ada 1 orang di Gerasa yang butuh mengalami kasih Tuhan. TUHAN YESUS mempunyai kedaulatan, tapi bukan itu tujuan akhir, Ia ingin memanifestasikan kasih Tuhan buat 1 orang ini.
Menjadi pertanyaan buat kita, bagaimana sikap kita dalam pelayanan.
Pertama, apakah kita mempunyai kasih seperti yang Tuhan Yesus miliki. TUHAN YESUS mungkin memberikan kuasa dalam intelektual, dalam perdagangan, tapi apakah itu kita pakai bersamaan untuk memanifestasikan kasih yang Tuhan berikan pada kita. Bagaimana kita tahu bahwa dalam pelayanan kita tidak lagi memanifestasikan kasih Tuhan?
Ciri2 nya adalah ketika pelayanan itu sudah menjadi beban dan tidak memberikan sukacita. Itu tandanya kita tidak lagi melayani dengan hati yang mengasihi, tidak lagi melakukan pekerjaan di ladang Tuhan dengan hati yang mencintai seperti yang Tuhan lakukan kepada orang di Gerasa ini. Ketika pelayanan menghadapi kesulitan, pergumulan, bahkan harus mencucurkan air mata, kita merasakan beban dan penderitaan besar, kita merasa kita seharusnya tidak ada disini, saya dibutuhkan di tempat lain.
Kedua, bagaimana orang yang sudah mengalami kasih Tuhan tapi berpangku tangan dan tidak terlibat dalam pelayanan? Saya mengatakan bahwa orang seperti ini adalah orang yang tidak punya hati. Ketika orang di Gerasa ini diselamatkan dari keterhinaan dan kehilangan identitas, dia berkata “Aku akan ikut Tuhan” dan TUHAN YESUS suruh dia bersaksi bagi TUHAN YESUS di kota Dekapolis. Akhirnya , di kota Dekapolis, yang artinya sepuluh kota, dia menjadi berkat yang luar biasa.
Yang ketiga, buat orang yang sudah mengalami kuasa dan kasih TUHAN YESUS dinyatakan ,tetapi hatinya tidak tergerak. Mereka adalah seperti orang yang memiliki babi itu, yang menghitung2 kalkulasi dan bagi mereka kehadiran TUHAN YESUS menjadi kerugian besar, mereka marah dan mengusir TUHAN YESUS dari kota mereka, dari hidup mereka. TUHAN YESUS tidak memaksakan. “Lihat, aku mengetuk pintu, kalau engkau menerima, engkau membuka”, kalau tidak, TUHAN YESUS tidak memaksa. Dan saya percaya, kita yang hadir disini bukan seperti orang yang ketiga, yang kedua, tetapi seperti orang pertama yang begitu melihat dan merasakan kasih Tuhan, kita begitu tergerak dan terus menerus mencintai dan melayani. Biarlah kita mempunyai hati yang mencintai dalam melayani.

Mari kita berdoa.(27 Oktober 2002)

April 24, 2005

Apa itu Rendah Hati?

Yakobus 4 : 7 - 10

Pada Allah, tidak ada yang lebih tinggi, lebih hormat dari diriNya, karena Dialah yang tertinggi. Sementara manusia, selama dia masih menginginkan sesuatu yang lebih tinggi, dia merasa hidupnya berarti: seorang anak kecil bertanya pada papanya, kapan papa mengajakku ke taman Mini? Tapi setelah dia besar, dia ingin pergi ke Paris, karena manusia selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik, selalu mcngarahkan pengharapannya pada sesuatu yang lebih indah, lebih sempuma, lebih tinggi, lebih bernilai. Itu lumrah adanya. Namun sering kali, keinginan manusia berlawanan dengan keadaan fisiknya: ketika dia masih anak-anak, wajahnya mulus tapi pakaiannya kusut, karena dia tidak punya uang membeli pakaian yang bagus, saat dia sudah mampu mengenakan pakaian perlente, wajahnya sudah keriput, tubuhnya sudah rapuh. Kita selalu ingin hidup lebih baik, lebih hormat, lebih mulia, lebih nikmat.,.., tapi Allah, tak ada yang lebih tinggi dariNya, Dialah yang tertinggi. Kadang, orang yang berada di posisi paling tinggi sulit kita pahami. Saat Musa menjadi pemimpin Israel, mertuanya menyarankan dia mengatur cara kerjanya: mengangkat pemimpin atas 10 orang, pemimpin atas 50 orang, pemimpin atas 100 orang, pemimpin atas 1000 orang. Setelah Musa mendapat inspirasi itu dari Jetro, imam kafir itu, diapun mengatur kerjanya: kalau seorang menemui masalah, dia membawanya pada pemimpin 10 orang. Kalau si pemimpin tak bisa menyeiesaikan, dia harus membawanya pada pemimpin 50 orang, pemimpin 100 orang, pemimpin 1000 orang, sampai semuanya gagal menyelesaikan perkaranya, barulah dibawa pada Musa. Saat bangsa Israel susah, mereka datang kepada Musa, saat Musa susah, dia datang kepada siapa? Allah. Kalau Allah susah, Dia datang kepada siapa? Tidak ada, bukan? Karena Dialah yang tertinggi. Jadi, siapa itu pemimpin? Gang buntu. Banyak orang merindukan, memimpikan, memperebutkan posisi sebagai pemimpin, tanpa pernah memikirkan: dia harus menjadi gang buntu; menampung semua sampah; masalah. Allah, tidak ada yang lebih tinggi, lebih hormat dariNya, tapi Dia mau mengasihi. Siapa yang Dia kasihi? Orang yang lebih rendah, yang kurang hormat, kurang mulia. Mana mungkin kau mencintai orang yang cacat, yang jelek, yang sakit..? Karena semua manusia ingin bergaul dengan yang lebih mulia, lebih hormat, lebih cantik. Tapi Allah, dari kekal sampai kekal hanya mencintai manusia yang lebih rendah. lebih remeh, yang berdosa, yang najis. Saya sendiri tak habis mengerti, mengapa Allah mencintai orang berdosa yang hina dengan begitu konsisten. Jonathan Edward, seorang teolog mengatakan: give the greatest love to the greatest one, and give the lesser love to the lesser one. . Mengapa kita harus mengasihi Allah lebih dari mengasihi manusia? Karena Allah lebih besar dari manusia. Mengapa kita harus mengasihi manusia lebih dari mengasihi benda? Karena manusia lebih besar dari benda. Seorang isteri mengeluh: saya merusakkan barang suami saya, dia marah begitu rupa; dia lebih mencintai barangnya dari mencintaiku. Kita memang sering, mencintai orang lebih dari mencintai Allah, mencintai perkataan manusia lebih dari mencintai Firman Tuhan — klasifikasi kita dalam hal mengasihi selalu kacau. Kata Jonathan Edward, kita harus mengasihi yang suci, yang lebih tinggi dengan kasih yang lebih besar. Tapi 60 tahun silam, seorang yang bernama Peter Peng, di Tiongkok, menulis buku mengeritik Jonathan Edward: kalau teori Jonathan benar, mengapa Allah mengasihi orang berdosa yang begitu remeh? Memang, tokoh-tokoh yang yang pikirannya tajam selalu menstimulir kita memikirkan kebenaran dengan lebih utuh. Saya senang akan rangsangan pemikiran yang membuat kita transform through Reformed; transformasi lewat reformasi, membuat kita lebih dekat dengan kebenaran Tuhan yang asli. Tuhan tak punya sasaran yang lebih tinggi, lebih mulia dariNya, Dialah yang tertinggi, Dialah dirinya kebenaran, keindahan, kesucian, keadilan, kebajikan, saya menyebutNya sebagai subyektifitas kebenaran yang berpribadi; the eternal subjectivity of the truth in person, Dia mengasihi, karena Dia adalah kasih. Siapa yang Dia kasihi? Manusia berdosa, yang tak layak menerima kasihNya. Kalau kita disuruh mengasihi yang hina yang jelek, yang kurang ajar, yang melawan, yang najis...sulit luar biasa, bukan? tapi Allah selama-lamanya mengasihi orang yang lebih rendah dariNya dengan kasih yang selalu segar, yang tak berubah, yang abadi secara konsisten.

Tuhan mengatakan: anugerah yang lebih akan diberikan pada orang yang rcndah hati. Istilah. lebih disini bersifat transendental, karena Allah kita transenden melampaui waktu dan kurunnya, tempat dan kurunnya. Karena kurun waktu dan kurun tempat adalah ciptaanNya. Orang yang mengerti bahwa Allah yang transenden mau mencintai manusia yang najis, yang berdosa barulah bisa mengerti apa itu rendah hati. Karena rendah hati bukanlah tampang luar, bukan juga adat istiadat seperti bangsa Jepang misalnya. Seorang yang bertampang rendah hati bisa saja hatinya sombong luar biasa, orang yang mengikuti adat, terlihat begitu rendah hati, mungkin hatinya congkak luar biasa. Rendah hati bukan menyetujui semua perkara, selalu mengatakan yes pada orang. Pribahasa Tionghoa mengatakan li duo bi zha; semakin banyak tata krama semakin banyak kepalsuan, semakin banyak belajar memperlakukan orang dengan ramah semakin tidak bersungguh-sungguh. Lao Tze menuliskan di dalam dao de jing: zhi hui chu you da wei; semakin terpelajar semakin pintar berpura-pura. Kita senang melihat seorang anak kecil yang begilu polos, jujur, tapi kalau seorang yang sudah bcrusia 50 tahun tetap sepolos anak kecil tentu tidak beres, bukan? Kepolosan tidak mengikutimu sampai kau sudah berpendidikan tinggi, sudah punya banyak pengalaman, tapi Alkitab menuntutmu punya hati yang murni. Kata Yesus: jika kau tidak berbalik seperti anak-anak, kau tidak akan masuk ke Kerajaan Allah. Karena yang ada di dalam Kerajaan Allah adalah orang yang seperti itu. Bagaimana caranya kita belajar rendah hati? Tahu Allah yang tertinggi rela mengasihi manusia yang begitu remeh dengan konsisten.

Ulang: rendah hati bukanlah sejenis tata krama, adat istiadat atau kebiasaan. 30 tahun silam, kali pertama saya berkhotbah di Taiwan, waktu kami masuk ke restoran, ada beberapa orang menyambut di pintu, saat kami keluar, mereka selalu mengatakan; xie xie guang lin, huan ying zai lai; terima kasih atas kedatangannya, kami menantikan kunjungan berikut. Namun saya perhatikan, nada penyambut di semua restoran sama; seperti robot, membuat orang muak mendengarnya.

Berbeda dengan orang Indonesia, saat mengatakan: terima kasih, silahkan datang lagi, baik di pesawat atau di restoran, selalu begitu sungguh-sungguh; alami. Tuhan berkata, hendaklah kau rendah hati. Yang mengatakan statement itu adalah Tuhan yang paling rendah hati, maka Dia berhak menuntut kita rendah hati. Kalau Dia tidak rendah hati, mana mungkin Dia mau terus menerus mencintai orang yang lebih rendah dariNya, mau turun ke dunia, lahir di palungan, mau mengaku pemungut cukai; orang berdosa sebagai kawanNya, mau dicambuk, disalibkan tanpa mengatakan sesuatu yang bersifat menghakimi? Dia rendah hati, dan Dia berjanji akan mcmberi anugerah yang lebih pada orang yang rendah hati. Kalimat inilah yang selalu mengingatkan saya: sudahkah saya rendah hati? Sudah sekian bulan, kami tak mendapatkan penerobosan untuk desain tempat parkir, meski arsitek yang sangat pintar, kompeni yang paling besar membantu tetap tak menemukan jalan keluarnya. Tapi tiga hari yang lalu, saya bangun pagi, merasa perlu mengubah salah satu sudutnya, kami mencobanya selama dua hari, dan berhasil mendapatkan tambahan 80 sampai 90 tempat untuk parkir mobil ~ suatu anugerah, bukan? Kepolosan tidak mengikutimu sampai kau sudah berpendidikan tinggi, sudah punya banyak pengalaman, tapi Alkitab menuntutmu punya hati yang murni. Kata Ycsus: jika kau tidak berbalik seperti anak-anak, kau tidak akan masuk ke Kerajaan Allah. Karena yang ada di dalam Kerajaan Allah adalah orang yang seperti itu. Bagaimana caranya kita belajar rendah hati? Tahu Allah yang tertinggi rela mengasihi manusia yang begitu remeh dengan konsisten. Coba perhatikan: anak kecil yang pintar bicara, menyanyi, langsung menonjol, seumur hidupnya begitu begitu saja. Tapi orang yang selalu takut dirinya tidak bisa, bila diserahi pekerajaan selalu dia lakukan dengan baik. Apa sebabnya?

Karena dia tidak menganggap dirinya pintar, mampu, dia memberi peluang buat Tuhan do something in my life, do something to correct me, to make me progress. Pengukir yang terbaik akan membuang bagian-bagian yang tak perlu, seperti alroji skeleton, arloji yang tehniknya tinggi, yang tertipis. Arloji emas, semakin berat semakin mahal harganya. Tapi arloji skeleton, mengikis semua bagian yang tidak perlu (meskipun itu adalah emas), sisa dahan yang kecil, yang diukir bunga di atasnya, kecil tapi kuat, daya tahannya, tehniknya, seninya terpancar dari sana. Jadi, orang yang masih utuh, meski dia adalah emas, tak terlalu bernilai. Tapi orang yang sudah ditempa, sebagian besar dari dirinya sudah dibuang, di mata Allah; Seniman tertinggi yang menempanya: dia bernilai. Pada umumnya, kita ingin menjadi pemimpin, tapi pemimpin yang ada di tangan Tuhan perlu ditempa begitu rupa. Saat Musa berumur 40 tahun, dia merasa: I can do great thing for my nation, I can be the leader for Jsrael.karena dia sudah mempelajari segala pengetahuan di Mesir, lalu dia membunuh orang Mesir. Musa memang adalah seorang yang ngetop, di negara yang ngetop arsitekturnya: piramida..., sepertinya dia cocok menjadi pemimpin Israel. Karena di kalangan orang Israel tidak ada orang yang lebih pintar, lebih berkedudukan tinggi darinya, dia adalah anak dari puteri Firaun. Tapi dia tidak mau tinggal di istana, tidak mau disebut anak puteri Firaun, dia mau menderita sengsara bersama orang Israel, bukankah itu wujud dari kerendahan hatinya? Bagi manusia, dia rendah hati, tapi bagi Allah, dia belum ditempa, sebab itu, dia ingin dipakai Tuhan, tapi Tuhan tidak mau memakainya. Adakalanya, Tuhan sepertinya berlaku begitu kejam, tega membuang emas. Mengapa? Karena Tuhan ingin menjadikannya benda seni, bukan sekedar metal yang mahal harganya, maka Dia mengukirnya, meski kelihatannya kecil tapi cocok dengan desainNya, konsepNya, nilaiNya. Musa terus menerus ditempa, sampai dia berusia 80 tahun, barulah Tuhan berkata: Musa, temuilah Firaun, beritahukan padanya, let My people go, let them go to the wilderness and worship their God there. Apa jawab Musa? "jangan utus aku, aku tidak berfasih lidah " Apakah Musa punya kemampuan berpidato? Punya. Dari mana kita tahu hal itu? Kis. 7 —firman Tuhan. Roh Kudus mengatakan, Musa pandai bicara, mengapa Musa mengatakan aku tidak berfasih lidah? Menurut saya, ada dua penyebab:

1. setelah 40 tahun dia hanya berbicara pada kambing, domba, maka pikirnya, mana mungkin aku bisa berkata-kata pada Firaun?

2. dia sudah betul-betul menyadari dirinya tidak sanggup dan tidak layak melayani Tuhan. Ada banyak orang ingin cepat menyampaikan firman Tuhan, khotbahnya ngawur. Pendeta yang baik, banyak berpikir sedikit berbicara, orang yang berpikir secara mendalam dan mengutarakannya dengan sederhana. Pendeta yang tidak baik, sedikit berpikir tapi banyak bicara, pikirannya dangkal tapi menggunakan istilah yang sulit, guna memamerkan dirinya orang akademis. Khotbah Yesus lebih hebat tapi lebih gampang diterima ketimbang khotbah Paulus, karena Dialah Allah, Dia tahu menggunakan istilah yang paling sederhana, membuat orang mudah mengerti, kelihatannya tidak akademis, tapi bijaksanaNya dipelajari oleh orang-orang akademis sampai dunia kiamatpun belum tuntas.

Mengapa Musa mengatakan, aku tidak fasih? karena dia mengerti apa itu rendah hati. Jadilah rendah hati, Tuhan akan memberikan anugerah yang lebih kepadamu. Selama 4 dekade, saya sudah mendidik lebih dari 1500 orang mahasiswa teologi, saya menemukan, orang yang saat studi kelihatannya tidak punya kelebihan apa-apa justru menjadi hamba Tuhan yang baik, tapi yang kelihatan hebat malah tidak karuan. Seorang mahasiswa teologi yang menulis tesis tentang salib Krislus, pandai berkhotbah, mendekam 20 tahun di penjara. Tapi Pdt. Liem Kok Han, dulu dianggap tidak punya kelebihan apa-apa, tapi saya tahu dia akan dipakai Tuhan.

Karena dia cinta jiwa, dia punya kesungguhan untuk menginjili, maka membentuk persekutuan di penjara, mendirikan pos PI di kota Lama, di Malang, daerah miskin yang tidak dilirik orang lain. Dengan begitu, Tuhan memberkati dia. Sekarang Kok Han bukan orang muda lagi, tapi dia masih mau belajar, mau mendengar nasehat. Seorang lagi adalah: Hendra Wijaya, waktu dia masih studi, orang tidak memandang dia, tapi saya lihat, dia jujur, sungguh-sungguh. 5 tahun kemudian, dia berani membahas buku yang paling sulit dengan orang. Suatu kali, karena dia merasa tidak senang, langsung mau pulang. Saya marah sekali, dia seharusnya tidak diluluskan, sebab dia tidak taat, tidak mau berjuang. Kamipun berunding dan memutuskan untuk memberinya kesempatan lagi, dia dikirim lagi ke Taiwan, Zhong guo, tempat-tempat yang paling sulit, dimana dia belajar bersabar. Sekarang dia menjadi berkat di Berlin dan di Hamburg. Jadi, yang penting bukan berlari dengan cepat, melainkan berlari dengan tekun sampai akhir. Tuhan menginginkan kita rendah hati, karena orang yang rendah hati akan diberi anugerah yang lebih. Kalau kau congkak, angkuh, merasa diri hebat banyak pintu yang ada di depanmu tertutup. Tapi kalau kau mau rendah hati, ditempa oleh Tuhan ada banyak pintu yang terbuka lebar di depanmu. Jadi, barangsiapa menganggap diri hebat; Tuhan membutuhkan dia, akan disaring dari Kerajaan Tuhan. Barangsiapa sungguh-sungguh jujur, rendah hati, bersandar pada Tuhan, akan Dia berkati. Hari ini, kita belum membabas tentang beberapa perintah Allah yang hanya ada di surat Yakobus, seperti menantang iblis, dekat dengan Allah, membersihkan kenajisan yang ada di tanganmu, di hatimu, organic relationship antara rendah hati dan diberkati Tuhan, semua itu baru akan kita bahas di akhirnya Mei. Kiranya Tuhan memimpin, memberkati kita.

(ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah —EL)