March 13, 2005

Problematika Asumsi Dunia (Pdt.Sutjipto Subeno)

PROBLEMATIKA ASUMSI DUNIA (1)
Pdt. Sutjipto Subeno

Seringkali sebagai orang Kristen kita didikte oleh asumsi-asumsi dunia, yang terkadang memang secara logis terlihat benar. Tetapi ada beberapa celah yang perlu kita soroti, sehingga kita tidak mau dijebak di dalamnya.
a. Kekristenan Ideal tapi Tak-Teraplikasikan
Salah satu asumsi yang seringkali didengungkan oleh mereka yang Kristen tapi tanggung adalah satu konsep bahwa ajaran iman Kristen itu sangat ideal, sangat baik, sangat tinggi, agung, tetapi sayang, nggak bisa diterapkan. Inilah pergumulan saya ketika mau jadi Kristen. Bagi saya, percuma saya jadi Kristen memegang ajaran Kristen yang sedemikian bagus, tetapi nggak bisa diterapkan. Bukankah itu sama dengan mimpi di siang hari bolong. Maka saya akan hidup dalam penipuan diri yang sangat besar. Dasar itulah yang menjadikan saya studi secara serius dan mendalami iman Kristen dan prinsip-prinsip ajaran Kristen yang tegas dan agung itu dan melihat dimana lubangnya. Setelah menjalani sekian lama, saya percaya sungguh dan mengalami sungguh bahwa iman Kristen bukanlah iman menara gading yang palsu, yang hanya merupakan utopia, tetapi betul riil dan bisa dijalankan.
Masalahnya adalah orang-orang yang sudah sebelumnya menetapkan bahwa itu mustahil. Orang-orang ini didikte oleh dunia, bahwa kalau hidup di dunia tidak mungkin dengan iman Kristen, harus dengan cara dunia. Asumsi ini yang justru perlu dipertanyakan. Betulkah cara dunia itu yang bisa diterapkan? Ataukah cara dunia itu yang akan membawa kepada kebinasaan? Betulkah dengan korupsi, manipulasi, kolusi, semua baru bisa jalan, ataukah justru semua itu yang membuat secara global sistem dunia ini menjadi macet, mempersulit diri, merusak diri, dan pada akhirnya justru menghancurkan diri?
Banyak orang pikir Mat 16:24-26 adalah ajaran yang absurd dan merugikan (orang harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus setiap hari). Tetapi justru cara itulah yang terbaik bagi manusia.
b. Dunia berdosa harus diatasi dengan cara berdosa
Salah satu konsep yang sangat berakar secara natural dalam diri manusia, apalagi yang sudah berkembang dan berakar dalam dosa, adalah pola "mata ganti mata" dan "gigi ganti gigi." Konsep ini pada dasarnya tidak salah kalau diterapkan secara tepat, yaitu dari Allah terhadap manusia (antara Pencipta terhadap ciptaan), bukannya manusia terhadap Penciptanya, atau ordo yang tidak mutlak terhadap ordo yang mutlak. Tetapi egoisme manusia telah membuang segala bentuk pembedaan yang hakiki ini. Akibatnya, muncul konsep, kalau dunia yang berdosa menggunakan cara berdosa, maka itulah juga cara yang harus ditempuh setiap orang untuk bisa survive di tengah dunia.
Celakanya, ketika kita sudah menjadi Kristen, sikap ini masih terus kita bawa. Gejala ini juga tampak pada murid-murid Yesus sebelum mereka mengerti sesungguhnya apa itu Kekristenan dan pola pikir Kristen. Mereka berusaha menggunakan cara-cara yang musuh mereka lakukan, dan berusaha untuk membalas mereka juga menggunakan cara yang dunia lakukan.
Salah satu konsep seperti ini berlaku khususnya di dunia bisnis, yaitu bahwa dunia bisnis memang sudah dikenal sebagai dunia yang kotor, sehingga kalau bergerak disitu yang harus berkanjang lumpur. Makanya jangan pakai baju putih. Lebih baik pakai celana gombal saja. Dunia berdosa perlu dihadapi juga dengan cara dosa.
Tetapi kalau kita kaji lebih cermat, adakah satu bidang di dunia ini yang tidak tersentuh oleh dosa? Bahkan di dunia agama, dosa masuk begitu hebat, sehingga dunia keagamaanpun tidak bisa bersih dan suci murni. Fakta ini perlu disadari, sehingga kita sadar, kemana kita lari, kita juga akan berhadapan dengan fakta yang sama. Bukan hanya dunia bisnis (atau lebih sempit: cuma di kantorku saja) yang brengsek. Seringkali ada orang Kristen yang berpindah dari satu kantor ke kantor lain, karena ia merasa kantornya "kurang Kristen." Ia mencari lingkungan yang imun, tanpa virus dan tanpa bakteri. Maka satu-satunya tempat bagi dia adalah karantina.
Sejauh kita hidup, tidak mungkin kita bisa berharap ada satu tempat yang murni suci tanpa tersentuh dosa. Tetapi yang menjadi masalah, justru bagaimana di tengah dunia berdosa kita bisa tidak berdosa, atau lebih tepat memperjuangkan kehidupan pertumbuhan iman yang tidak berhenti berproses.
Salah jika kita mau didikte oleh asumsi dunia. Dunia berdosa tidak perlu dihadapi juga dengan cara dosa. Itu hanya menunjukkan bahwa kita jauh berada di bawah dunia, karena dunia yang mendikte kita. Seharusnya, kita bisa memberikan alternatif kepada dunia, untuk melihat cara penanganan yang lebih baik. Kita bukan mau membalik dunia, tetapi memberikan alternatif, sehingga dunia bisa melihat bahwa bukan cara mereka saja yang bisa dijalankan. Terobosan seperti ini memang membutuhkan tenaga, pemikiran, serta pengorbanan lebih besar. Tetapi sama seperti dunia juga berjuang keras untuk mendikte kita, marilah kita jangan mau dihanyutkan begitu saja, tetapi berjuang untuk juga menyodorkan alternatif kebenaran kepada dunia. Kita perlu merombak paradigma dunia dengan paradigma Kristen yang sejati. Baru dari situlah ada dasar pijak yang sejati dan acuan interpretasi yang benar untuk anak Tuhan bisa hidup di tengah dunia berdosa.
c. Kesucian Instan (Instant Holiness)
Asumsi ketiga yang sangat menyulitkan orang Kristen adalah konsep kesucian instan. Satu tekanan yang sengaja dunia berdosa kerjakan terhadap orang Kristen adalah tuntutan kesucian instan ini. Mereka tidak mau menerima konsep paradoks dan prinsip proses dinamis pertumbuhan Kristen.
Asumsi ini menekankan bahwa ketika kita menjadi Kristen, maka kita menjadi ciptaan baru, menjadi anak Tuhan, menjadi orang benar dan orang kudus. Istilah-istilah ini tidak salah, bahkan mutlak benar, tetapi interpretasinya yang bisa salah. Konsep ini kemudian dipakai dan dijadikan "truf" oleh orang non-Kristen untuk menekan orang Kristen. Mereka langsung menuntut kesempurnaan dari orang tersebut. Maka asumsi ini menjadi tekanan bagi orang Kristen, yaitu ketika bertobat, ia harus segera menjadi suci sempurna, tidak ada kesalahan atau dosa yang dilakukan lagi, semua konsepnya menjadi Alkitabiah murni dan hidupnya menjadi malaikat. Celakanya, banyak orang Kristen, yang mendapat tekanan untuk bersaksi dan memberitakan Injil "termakan" oleh asumsi ini, sehingga mereka berjuang keras untuk menjadi malaikat (atau orang suci). Akibatnya mereka menjadi stress berat. Setelah stress berat, banyak orang Kristen yang akhirnya malah meninggalkan konsep kesucian Kristen dan berkembang menjadi liar, karena mereka anggap tokh mau suci juga nggak bisa, mendingan nggak usah jadi Kristen sekalian, atau menerima segala kebrengsekan hidup sebagai kewajaran.
Kita perlu sadar, bahwa sekalipun ketika bertobat kita langsung berstatus orang kudus, tetap kita berada di dalam proses untuk mencapai kesempurnaan status itu. Kita perlu memperkenankan Tuhan dan Firman-Nya menggarap hidup kita secara dinamis di dalam proses waktu. Kita tidak bisa menuntut Tuhan merubah kita dalam waktu satu detik menjadi orang sempurna. Di dalam pembinaan-Nya Tuhan Yesus membiarkan murid-murid-Nya berproses di dalam waktu. Mereka seringkali berbuat salah, masih menyakiti hati Gurunya, masih bertentangan pola pikirnya, bahkan sempat menyangkal secara telak Tuhannya ketika berada di dalam kesulitan. Tokh Tuhan tidak "memecat" mereka menjadi murid. Tuhan memperkenankan adanya proses waktu untuk menjadikan mereka alat-alat yang efektif di tangan-Nya.
Tuntutan Kristen instan membuat banyak orang Kristen menjadi stress atau munafik. Mereka berusaha menampilkan hidup yang palsu demi agar bisa menunjukkan "ke-instan-annya." (mirip supermi). Memang kita perlu memproses hidup kita sebaik mungkin dan secepat mungkin bisa bertumbuh, tetapi kita perlu membiarkan proses itu terjadi di dalam waktu. Semakin kita bertumbuh, semakin kita mampu mengerti hidup dan panggilan kita di hadapan Tuhan, serta bagaimana kita menggarapnya sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk itu, kita perlu terus belajar, memproses diri dan siap dibentuk oleh Tuhan.

Soli Deo Gloria.

Rahasia Komitment (Dr.D.James Kennedy)

RAHASIA KOMITMENT (oleh Dr. D. James Kennedy) Sebuah khotbah menantang yang diambil dari kehidupan David Livingstone : "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku,ia tidak layak bagi-Ku. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal" (Matius 10:37 ; 19:29)
Rahasia Komitmen!
Setiap orang di antara kita bertanggung jawab atas sesuatu. Allah telah memberikan bagi semua orang talenta - talenta tertentu, kemampuan, kekuatan, energi, dan waktu tertentu. Dan setiap orang di antara kita mengabdikan karunia-karunia kita untuk suatu tujuan tertentu,baik dengan pertimbangan seksama ataupun dengan sembrono. Dengan tegas Yesus Kristus menuntut komitmen hati kita.
Sebuah contoh kehidupan yang sesungguhnya sepadan dengan komitmen total.Kehidupan tersebut adalah kehidupan seorang pria,yang tidak diragukan lagi, adalah utusan injil paling terkenal dalam kurun waktu 500 tahun terakhir, seorang rasul bagi Afrika, DAVID LIVINGSTONE.
Livingstone kembali ke Inggris Raya pada masa cutinya yang pertama setelah 16 tahun berada di pedalaman Afrika. Dia diminta untuk berbicara di Universitas Glasgow. Barangkali dia akan menolak jika saja dia tahu apa yang sedang menantikan dia.Sudah menjadi kebiasaan para mahasiswa pada masa itu untuk mengganggu pembicara-pembicara yang datang,dan mereka sudah betul-betul siap untuk pembicara ini juga. Mereka membawa ketapel, terompet mainan,giring-giring, dan alat pembuat keributan lainnya yang dapat ditemukan.
Livingstone berjalan menuju podium dengan langkah seorang laki-laki yang telah berjalan 11000 mil. Lengan kirinya tergantung dengan lemah disisi tubuhnya, karena hampir saja terkoyak dari tubuhnya oleh serangan seekor singa besar. Kulit wajahnya coklat gelap akibat 16 tahun berada diibawah matahari Afrika. Wajah itu berkerut penuh garis-garis yang tidak terhitung jumlahnya karena demam Afrika yang merusak dan menguruskan tubuhnya. Dia telah diserang oleh orang-orang biadab dan oleh orang-orang Turki yang menjalankan perdagangan budak yg kejam. Telinganya setengah tuli akibat demam rematik dan dia setengah buta akibat cabang pohon yang menampar matanya di hutan.
Para mahasiswa terbelalak, dan mereka sungguh tahu bahwa di hadapan mereka adalah sebuah kehidupan yang dalam arti sesungguh nya benar-benar habis terbakar bagi Allah. Tidak ada giring-giring yang dibunyikan, tidak ada kaki yang bergeser.Keheningan menyelimuti aula besar itu dan mereka mendengarkan dalam kebisuan pada saat Livingstone mengisahkan perjalanannya dan tentang kebutuhan-kebutuhan yang sangat luar biasa dari populasi Afrika yang besar.
"Saya akan memberitahukan kepadamu, suatu hal yang menopang saya di tengah-tengah semua kerja keras, penderitaan, dan kesepian yang sangat besar.Yaitu sebuah janji, janji dari seorang pria yang bermartabat paling luhur; yaitu janji ini :
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman (Matius 28:20)Inilah rahasia komitmen dari Livingstone. Sebuah ayat yang sangat sederhana, tidak membutuhkan pemahaman Alkitabiah yang rumit. Masalahnya sederhana saja: apakah kita percaya? Livingstone percaya dan menemukan kekuatan yang tidak ada habis-habisnya dalam janji tersebut.
"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman." Aku menyertaimu, bukan hanya yang lain, tapi bersamamu. Aku menyertaimu hari ini, saat ini, dan selamanya.
Livingstone percaya!
Dalam buku hariannya kita menemukan sebuah doa yang luar biasa, doa yang saya percaya menggambarkan kehidupan pria ini, sebuah doa rangkap tiga. Sebuah doa yang pada waktu mendoakannya, hampir menyebabkan kata-kata itu melekat di tenggorokanmu :
"Tuhan, utus aku kemana saja, hanya sertailah aku. Letakkan beban apa saja atasku, hanya topanglah aku. Putuskan ikatan apa saja dari padaku, kecuali ikatan yang mengikatku kepada pelayanan-Mu dan kepada hati-Mu."
Melalui semua itu datanglah kata-kata, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa." "Utus aku ke mana saja," doa anak muda ini, yang lahir pada tahun 1813 di Blantyre, Scotland, dari orangtua yang takut akan Allah. Ayahnya adalah seorang guru Sekolah Minggu Presbitarian yang saleh, yang seringkali mendudukkan anak laki-laki kecilnya di hadapannya dan mengisahkan cerita-cerita yang mempesona tentang pahlawan-pahlawan iman yang besar dan tentang orang- orang yang telah membawa injil ke ujung-ujung dunia yang jauh.
Secara khusus dia terpikat dengan cerita mengenai Charles Gutzlaff, dokter misionaris yang terkenal. Livingstone menetapkan hati bahwa dia akan menjadi seperti Gutzlaff. Namun beberapa tahun kemudian, Livingstone menemu kan bahwa Gutzlaff sendiri mempunyai seorang pahlawan, yang bukan sekedar manusia belaka, melainkan Anak Allah, seorang pahlawan yang bukan sekedar pahlawan belaka,melainkan Juru Selamat Ilahi. Maka, setelah memahami Injil, dia meletakkan iman dan kepercayaannya kepada Kristus yang mati di Kalvari, dan kehidupan Livingstone diubahkan.
Livingstone masuk ke sekolah kedokteran untuk mempersiapkan diri menjadi seorang dokter misionaris. Dia diwisuda, ditahbiskan, dan siap untuk berlayar, tetapi tiba-tiba pintu terkunci dihadapannya.
Perang pecah dan ladang Tuhan tertutup. "Tuhan,Engkau berjanji untuk menyertai dan membimbingku.Mengapa Engkau meninggalkan aku ?" Sebuah suara menjawab,"David, Aku tidak meninggalkanmu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa. Tetapi Aku tidak mengutusmu ke Cina."(yaitu tujuan Livingstone semula).
Salah satu dari sedikit utusan Injil yang telah pergi ke kawasan pantai Afrika adalah Robert Moffat,yang datang ke kota kediaman David pada masa cutinya dan berkhotbah. Dia mengatakan, "Seringkali, ketika aku memandang ke dataran yang sangat luas diUtara, di bawah sinar matahari pagi aku melihat asap dari seribu desa, yang tidak pernah didatangi satu pun utusan Injil."
Kata-kata itu melekat di hati Livingstone. AFRIKA! "Utus aku ke mana saja." "Aku menyertai kamu senantiasa."
Maka berlayarlah Livingstone ke Afrika. Dia terjun ke hutan dari arah selatan dan menemukan bahwa tempat itu tidak dapat ditembus. Dia kembali ke pantai dan berlayar ke pusat pantai barat Afrika dan memutuskan untuk menembus ke pedalaman dari sana. Setelah penderitaan yang tidak terhitung jumlahnya, akhirnya dia membuka jalan menuju ke pedalaman. "Letakkan beban apa saja atasku," dan doa itu dijawab.
Seekor singa besar hampir saja mengoyak lengannya lepas dari tubuhnya dan membuat dia lumpuh untuk selamanya. Tetapi hal itu membawa berkat terselubung, karena pada waktu dia dalam proses penyembuhan, Robert Moffat datang dan membawa anak perempuannya yang cantik, Mary.
Bagi David dan Mary, itu adalah cinta pada pandangan pertama.Segera mereka menikah dan Mary berbagi semangat dan keprihatinannya untuk penginjilan di Benua Gelap Afrika. Sayangnya, bulan-bulan penuh penderitaan dan kerja keras itu terlalu berat buat Mary. Mereka melihat salah seorang anak mereka mati ketika mereka mencoba melintasi salah satu padang pasir Afrika yang luas. Sebuah beban yang hampir meremukkan Livingstone.
Akhirnya, tibalah keputusan yang paling sulit dalam hidupnya : mengirimkan istri dan ketiga anaknya yang lain ke Inggris.Betapa beratnya beban yang harus ditanggungnya. Mungkin yang paling menyakitkan dari semua itu adalah kritik yang mengatakan bahwa dia telah meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk berkelana di Afrika karena tidak benar-benar mencintai mereka. Betapa cepatnya orang-orang memberikan penilaian yang salah.
Surat-suratnya mengungkapkan suatu cerita yang jauh berbeda:
"Maryku tersayang, aku tidak dapat melihat wajah yang dapat dibandingkan dengan wajah yang terbakar terik matahari itu yang seringkali menyalamiku dengan pandangannya yang ramah.
Kumpulkan anak-anak di sekitarmu dan ciumlah mereka untuk aku. Dan katakan kepada mereka bahwa aku mencintai mereka,dan bahwa aku telah meninggalkan mereka karena kasih kepada Yesus, dan bahwa mereka harus mengasihi Dia juga"
Selama lima tahun penderitaan yang panjang dia tidak pernah melihat istri maupun anak-anaknya. Tetapi bayangan tentang ribuan desa di bawah sinar matahari pagi tetap menghantui dia dan mendorong dia pergi memproklamirkan Injil Kristus. Pada saat-saat ini, keberanian dan perasaan yang kuat bercampur baur dalam buku hariannya.
"Aku tidak akan menyimpang sedikitpun dari pekerjaanku bila hidup masih tersisa. Sasaranku yang terbesar adalah menjadi seperti Dia, dan menjadi serupa Dia, sepanjang Dia dapat ditiru. Tidak ada hal duniawi yang akan membuat aku putus asa. Aku membangkitkan keberanianku sendiri di dalam Tuhan Allahku dan maju terus"
Dan dia terjun ke hutan, selalu dikuatkan dalam kesepiannya oleh kata-kata ini : "Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa."
"Lepaskanlah setiap ikatan, kecuali ikatan yang mengikatku kepada pelayanan-Mu dan kepada hati-Mu."
Salah seorang anaknya telah meninggal, keluarganya berada ribuan mil jauhnya. Akhirnya, waktunya tiba ketika dia pulang ke rumah. Akhirnya rumah! Dengan penuh pengharapan besar dan sukacita dia menyerbu masuk ke rumah lamanya di Blantyre dan menemukan rumah itu kosong. Mereka baru saja menguburkan ayahnya.
Dan pria yang telah menghadapi tombak-tombak orang liar yang biadab dan auman binatang-binatang liar tanpa berkedip ini terjatuh dan meratap seperti seorang anak kecil. Tetapi Mary ada di sana.Apakah Mary masih mencintai dia ? Mungkin kita dapat menangkap sekilas isi hatinya pada saat kita membaca sebuah puisi yang ditulisnya untuk suaminya yang sudah kembali:
Seratus ribu selamat datang; betapa hatiku meluap-luap. Dengan kasih dan sukacita dan keheranan karena melihat wajahmu lagi. Bagaimana mungkin aku dapat hidup tanpa engkau selama ini, selama tahun kedukaan yang panjang ?
Kelihatan seolah aku akan mati bila aku harus berpisah denganmu sekarang. Bulan-bulan berlalu dan persekutuan berjalan manis. Tetapi selalu kata-kata ini terngiang dalam pikirannya:
"Pergi dan beritakanlah Injil."
Dan mimpi-mimpinya dihantui visi tentang seribu desa di bawah sinar matahari pagi. Jadi dengan kesusahan hati yang besar, dia berlayar kembali ke Afrika. Tahun-tahun berlalu, dan ketika anak-anak mereka sudah cukup dewasa, Mary menulis surat bahwa dia bisa datang untuk tinggal bersama dengan David. Selama berbulan-bulan Mary berlayar melintasi lautan lalu ke hulu sungai-sungai Afrika. Akhirnya di sambut oleh suaminya, hanya untuk segera diserang demam Afrika yang memilukan.
Livingstone mengesampingkan segala sesuatu yang sedang dilakukannya dan mencurahkan segenap keahlian medisnya untuk merawat dia. Malam demi malam, siang demi siang, dia duduk bersamanya dan menyeka dahinya yang panas. Lambat laun keadaannya memburuk dan dia menghembuskan nafas terakhir.
Mary meninggal dunia.David Livingstone menguburkan dia di bawah sebuah pohon yang besar dan menjatuhkan diri di atas gundukan tanah itu, dan sekali lagi dia meratap. Disitu muncul kembali di hatinya sebuah doa,
"Lepaskan ikatan apa saja kecuali ikatan yang mengikatku kepada pelayanan-Mu dan kepada hati-Mu."
Badan Livingstone remuk, orang-orang yg dikasihinya telah pergi, dia kelihatan sendirian, kecil hati. Dapatkah dia mengatasinya ?
Dalam buku hariannya tertulis ā€¯Yesusku, Rajaku, Hidupku, Segala-galanya bagiku, sekali lagi aku mengabdikan hidupku untuk-Mu ! Aku tidak menganggap bernilai segala sesuatu yang dapat kulakukan, kecuali dalam kaitannya dengan kerajaan Kristus."
Dan melalui semua itu, kata-kata yang menopang ini :
"Aku menyertai kamu senantiasa."
Ketika tiba di Ujiji, penduduk asli mencuri makanannya, dan yg terburuk dari semua itu, mereka mencuri kotak obat-obatannya yang berisi kina dan obat-obatan lain untuk menyembuhkan demam-demam yang mengerikan itu. Bagi Livingstone itu benar- benar berarti kematian, dan dia berseru, "Oh Allah, Engkau berjanji menyertaiku."
Selama 5 tahun dia tidak melihat wajah orang kulit putih, dan sekarang ditengah-tengah pedalaman Afrika, dia menengadah dari doanya dan melihat sebuah wajah kulit putih berjalan menghampirinya.Di belakang pria kulit putih ini ada suatu kafilah lengkap dan di atasnya berkibar sebuah bendera Amerika. Pria itu adalah Henry M.Stanley, dia berkata, "Dr. Livingstone, kalau saya tidak salah?" Dia diutus oleh James Gordon Bennet dari harian New York Herald untuk menemukan David Livingstone.
Kata Bennet, "Mereka mengatakan bahwa Livingstone sudah mati. Saya percaya bahwa dia ada ditengah-tengah Afrika terhilang, sakit dan terkucil. Stanley, carilah dia. Bawa dia kembali ke peradaban. Tidak peduli berapapun harganya" Stanley mencari sampai menemukannya, membawa obat-obatan dan makanan lengkap, serta merawat dia sampai sehat kembali.
Selama 4 bulan Stanley tinggal bersama Livingstone dalam satu pondok.Stanley menggambarkan dirinya sendiri sebagai berikut :
"Aku adalah seorang ateis paling angkuh di seluruh dunia ini." Tapi dia tetap menuruti amanat dari Bennet untuk mencari Livingstone.
Livingstone juga menuruti amanat dari Allah "Umat-Ku terhilang, sakit, menderita, dan terkucil. Pergi dan bawalah mereka kembali dan jangan pernah menghitung-hitung ongkosnya. " Orang seperti apakah Livingstone?
Stanley yang hidup dalam satu pondok dengan pria ini selama 4 bulan, mengatakan bahwa pria ini jelas bukanlah seorang malaikat, tetapi Stanley tidak dapat menemukan kesalahan dalam hidupnya. Belas kasihnya, kesungguhannya, ketenangannya pada saat dia menjalankan tugasnya, rasa simpatinya yang ditunjukkannya kepada semua orang di sekitarnya, membangkitkan simpati dalam hatinya sendiri dan dia berkata, "Akhirnya, setelah berbulan-bulan ini, Livingston bahkan membuat saya bertobat kepada Kristus."
Bagaimanapun, Livingstone tidak mau kembali ke eradaban, tetapi terjun lebih dalam lagi di Afrika.Dan bagi dia akhir perjalanannya sudah dekat. Buku hariannya mengatakan : "Tuhan, tolong aku untuk menyelesaikan pekerjaan-Mu tahun ini bagi kehormatan-Mu."
Dan itulah yang dilakukannya, dia tiba di tempat dimana seluruh kekuatannya habis, kakinya luka dan bernanah karena bisul. Selama berbulan-bulan dia tidak punya apa-apa untuk dimakan kecuali jagung kering yang keras, dan perlahan-lahan semua giginya mulai goyang dan tanggal.Dia ditinggalkan oleh semua orang kecuali 3 pengikutnya, termasuk Suzi dan Chumah (yang membawa jasad Livingstone kembali ke Inggris). Dia tidak dapat berjalan atau berdiri, dia tidak dapat maju satu langkah pun.
Inikah akhir dari perjalanan Livingstone? Tidak! Livingstone menyuruh teman-temannya meletakkan dia diatas tandu dan mengusungnya maju. "Aku tidak akan menyimpang sedikitpun dari pekerjaanku selama hidupku masih tersisa."
Dengan bersandar di tandunya yang ditegakkan, dia memproklamasikan kekayaan Injil Yesus Kristus kepada semua orang yang ditemuinya. Tibalah suatu hari ketika dia bahkan tidak bisa digerakkan. Hujan lebat tercurah ! Sebuah pondok kecil cepat-cepat didirikan. Livingstone terbaring diatas tempat tidur kecilnya. Tengah malam,pembantunya berbaring di pintu masuk untuk mencegah masuknya binatang-binatang liar. Ia mendengar Livingstone bergerak dan melihat dia dengan penuh penderitaan berguling dari tempat tidurnya, dan berlutut dengan tangannya terlipat dalam doa. Anak laki-laki itu kembali tidur. Di pagi hari dia melihat Livingstone masih berdoa. Beberapa utusan datang meminta pertolongannya, dan anak laki-laki ini memberitahu mereka bahwa Livingstone masih berdoa, supaya mereka jangan mengganggunya berdoa. Akhirnya dia sendiri menjadi kuatir dan berbisik kepadanya, "Bwana (Tuan)." Tidak ada jawaban."Bwana." Hening. Dia merangkak mendekatinya dan menyentuh pipinya yang sudah dingin. Livingstone meninggal di atas lututnya dalam doa.
39 tahun dia berjalan dengan susah payah menempuh 29000 mil di permukaan benua Afrika.Terang yang bersinar dalam kegelapan. 2 juta orang Afrika dibawa kepada Injil, dan terang itu terus bercahaya.Dalam setiap langkahnya dia dikuatkan dan ditopang oleh janji "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa."